Selasa, 19 Juli 2011

SEJARAH AMBALAN

SEJARAH AMBALAN SANG HYANG KALANG

                Nama ambalan kita pada mulanya muncul pada tahun 1981, bukan nama yang seperti sekarang ini,  tetapi akan mengambil nama daerah seperti Parigi, dengan syarat nama itu harus memiliki sejarah dan makna yang baik bagi kita serta ada data historis yang cukup valid (syah),  namun setelah menunggu beberapa waktu setelah adanya pengumuman untuk mengadakan pengajuan nama untuk ambalan tersebut ternyata belum ada pengajuan.  Itupun muncul beberapa usulan namun kurang mendapat dukungan dan argumentasi yang kuat, seperti nama Astamaya, sebuah nama daerah di sekitar SMPN 1 Parigi, karena SMA kita ada untuk pertama kali berada di lokasi itu.  Ada nama lain seperti Karang Jaladri, sesuai dengan nama tempat pacuan kuda di daerah Bojong Salawe, namun tetap tidak mendapat respond dan argumnetasi yang kuat, sehingga kemudian diambil alternative nama dari daerah lain yang memiliki syarat yang dituliskan diatas.
                Pada waktu itu semua anggota ambalan berfikir keras untuk menemukan nama yang pas dan pantas untuk ambalan kita,  hingga pada suatu saat ada seorang dewan Ambalan yang melakukan wawancara dengan sesepuh tentang kejadian dan sejarah Cijulang.  Dari sini muncul nama Jayengkara, dan Sembah Agung, yakni tokoh tokoh penyebar Islam di Cijulang tempo dulu, namun tetap nama-nama tersebut kurang mendapat respon dan katanya lebih bersifat kedaerahan.
                Pada suatu saat ditemukanlah nama Sinjang Kalang, yang bermula dari Sang Hyang kalang, yakni sebuah nama binatang kuda sembrani yang memiliki kemisteriusan tersendiri di daerahnya, Batu karas.   Dari nama itulah semua anggota ambalan sepakat dan tertarik untuk menelusurinya lebih dalam.  Dan kemudian diadakan pengamatan kedaerah tersebut.  Hasil pengamatan kemudian di diskusikan untuk diambil kesimpulan tentang cerita Sang Hyang Kalang ini.  Setelah semalaman di diskusikan maka, diambil keputusan bahwa nama Sang Hyang Kalang dijadikan nama ambalan dan pada tanggal  24 Desember 1981 saat  upacara bendera pukul 07.00, dibumi perkemahan Gunung Tumpeng Pradana Pertama Apip Winayadhi dan Pembina Gudep Ka Kaspian mensyahkan nama Sang Hyang Kalang sebagai nama ambalan.

SEJARAH AMBALAN
CITRA RESMI SIDHAYATRA

                Pada tanggal 14 Bulan Paguna tahun 1272 atau tanggal 22 Februari 1350 M, Linggabuana di lantik menjadi Ratu Negeri Sunda ke 3 di Kawali,  dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana.  Beliau mempunyai prameswari bernama Rara Lingsing dan dari beliau mempunyai empat orang anak.  Anak yang pertama bernama Citra Resmi (nama pemberian dari kakeknya) atau Dyah Pitaloka (nama pemberian ayahnya) yang lahir pada tahun 1339 M.  dan anaknya yang ke dua dan ketiga pada usia satu tahun meninggal dunia.  Dan anaknya yang ke empat bernama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1345 M. 
                Paada tahun 1386 M Negeri Sunda kedatangan utusan dari Kerajaan Majapahit dengan tujuan membuat lukisan atau gambar Putri Negeri Sunda, Citra Resmi, yang pada saat itu telah berusia 17 tahun. Maksud diambil lukisannya ini adalah untuk  diikutsertakan dalam pemilihan prameswari Kerajaan Majapahit,  karena pada saat itu Raja Hayam Wuruk belum mempunyai prameswari.  Dari maksud itu maka disetujuilah oleh Raja Lingggabuana dan adiknya yakni Mangkubumi Bunisora Suradipati,  dengan argumentasi bahwa jika kelak putrinya ini dapat terpilih, maka kebesaran Negeri Sunda akan lebih besar lagi di Nusantara,  karena pada waktu itu Negeri Sunda tidak termasuk kedalam wilayah kekuasaan Majapahit. 
                Citra Resmi konon kabarnya adalah seorang gadis cantik, bagai bunga yang sedang mekar ditaman.  Orang sunda mengatakan kecantikannya bakal deungdeuleueun atau membuat orang terpana.  Bahkan katanya orang yang melukisnyapun sampai kebingungan untuk  memilih warna yang cocok untuk jenis warna kulitnya yang merupakan perpaduan antara putih dan kuning. 
                Karena kecantikannya itulah,  telah mejadikan Raja Hayam Wuruk untuk memutuskan memilih Citra Resmi sebagai prameswarinya,  denganmengesampingkan para kandidat prameswari dari negeri lainnya. 
                Namun keputusan Raja Hayam Wuruk ini kurang mendapat dukungan dari Maha Patih Gajah Mada,  hanya karena pada zaman itu sudah menjadi keharusan bahwa Sabda Prabu sama dengan keputusan kenegaraan,  maka Gajah Mada hanya diam membisu tidak bisa berbuat apa-apa.  Dan akhirnya Raja Hayam Wuruk mengirimkan utusannya ke Negeri Sunda untuk mengajukan lamaran dan menentukan hari pernikahahan kepada Prabu Linggabuana.  Lamaran dari Raja Hayam Wuruk sudah tentu diterima oleh Raja Sunda,  namun yang menjadi keanehan disini adalah bahwa utusan dari Majapahit meminta dari pihak perempuan untuk datang ke Majapahit pada saat pernikahannya nanti.  Hal ini bagi masyarakat Sunda melanggar adat Kesundaan yang sudah lama mengakar dalam jiwa masyarakat Sunda.
Namun demi masa depan putri yang dicintainya maka berangkatlah rombongan dari negeri Sunda menuju Majapahit.  Sebelum sampai di majapahit rombongan dari Negeri Sunda di
 tahan dulu untuk beristirahat disebuah lapangan, Bubat namanya. Dan kemudian utusan rombongan datang menghadap ke Raja Hayam Wuruk di Majapahit. 
                Sesampainya di Majapahit utusan dari negeri Sunda diterima oleh Patih gajah Mada,  namun persepsi Patih Gajah Mada menilai kedatangan rombongan dari Sunda bukan untuk mengadakan acara pertikahahan antara dua Negara atau kerajaan yang sederajat, namun kedatangan rombongan dari Negeri Sunda dianggap sebagai penyerahan upeti dari Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit sebagai tanda takluknya Kerajaan Sunda atas Majapahit.  Tatkala syarat-syarat dari Gajah Mada ini disampaikan di hadapan pimpinan rombongan Negeri Sunda  yakni Ki Panghulu Sura dan Senapati Yuda Sutra Jali, wakil negeri  Sunda  itu  merasa terhina dan marah besar karena merasa dikhianati.  Senapati Sutra Jali langsung menghunus keris dan menantang gajah Mada untuk bertempur.       
Mendengar kejadian ini Prabu Linggabuana langsung tersinggung dan menyatakan perang terhadap majapahit.  Maka terjadinya peperangan antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan majapahit di lapangan Bubat ( sekarang terkenal dengan perang Bubat).
                Karena kedatangan kerajaan Sunda ke Majapahit bukan untuk berperaang, namun untuk melangsungkan acara pertikahan tentu pasukan yang dibawanya itu sedikit dan peralatannya bukan untuk perang, melawan pasukan Majapahit yang memang sudah siap tempur, maka kalahlah Pasukan dari Kerajaan Sunda itu, sampai gugur pula Prabu Linggabuana beserta para pengikutnya.  Sebelum berperang Patih Gajah Mada mengintruksikan agar jangan membunuh putri Citra Resmi,  dan memang yang tersisa hanyalah putri Citra Resmi. 
 Mendengar ayah dan seluruh paasukan dari Kerajaan Sunda tewas maka Putri Citra resmi serta merta mengambil patrem rambut pemberian pamannya Patih Mangkubumi Bunisora Suradipati dan menghujamkannya tepat ke ulu hatinya.  Citra resmi bunuh diri daripada harus menyerahkan kehormatan dirnya demi menjunjung tinggi martabat Kerajaan Sunda. 
                Melihat kenyataan itu Raja hayam Wuruk sangat sedih dan kecewa atas tindakan Patih Gajah Mada dan pengikutnya.  Menurut Buku Kekawin Gajah Mada,  setelah Perang Bubat raja Hayam Wuruk jatuh sakit,  dan karena merasa bersalah Patih Gajah Mada menghilang entah kemana.  Dari kejadian itu menyebabkan Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan keruntuhan, karena banyak pemberontakan dimana-mana untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.   

SANDI AMBALAN

SANDI AMBALAN SANG HYANG KALANG

Bentuklah dirimu menjadi manusia yang hakiki
Yang tahu akan Tuhan-Mu , masyarakatmu serta dirimu sendiri
Agar dapat bangkit tatkala engkau lemah
Dan berani tatakal engkau menghadapi rintangan
Dalam membela kebenaran dan keadilan
Tetap teguh dalam kekalahan
Jujur, rendah hati serta berbudi luhur dalam kemenangan
Janganlah menghadapi kehidupan ini hanya dijalan yang ringan
Tetapi jalani juga kehidupan yang penuh kesulitan dan tantangan
Agar pribadimu terdidik dan tetap teguh berdiri di tengah badai
Serta selalu mengasihi orang-orang yang lemah dan gagal
Bentuklah pribadimu menjadi manusia yang berhati jernih
Dan bercita-cita tinggi yang  sanggup memimpin diri sendiri
Sebelum memimpin orang lain
Yang sanggup meraih masa kini  dan masa depan tanpa melupakan masa lampau
Kalau engkau tak mampu menjadi pohon beringin yang tegak dipuncak bukit
Jadilah, belukar di tepi danau
Kalau engkau tak mampu menjadi belukar jadilah rumput,
Tetapi rumput yang memperkuat tanggul jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah jalan setapak
Tetapi jalan setapak yang menuju mata air
Tidak semua menjadi komandan,  tentu harus ada prajuritnya
Bukan besar kecil tugas yang menjadikan  tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah dirimu sebaik-baik dirimu sendiri

SANDI AMBALAN
CITRA RESMI SIDHAYATRA

Kehormatan itu suci
Jangan kurang amalmu
Tenanglah dalam bahaya
Katakanlah slalu dalam kebenaran
Jangalah sekali-kali berkata setengah benar
Atau yang berarti dua
Manusia itu manusia
Kaya atau melarat adalah keadaan lahir
Kita mengukur orang dengan keadaan batin
Karenanya…
Janganlah berbuat sesuatu yang dapat melukai hati
Atau menghinakan orang
Daripada hidup dengan nista
Dalam keadaan bagaimanapun juga
Pancarkanlah jiwamu dengan riang dan gembira
Dan jangan tampak pada lahirmu akan nista hatimu
Pemuda setia adalah seseorang yang sopan dan perwira
Yang membela orang-orang yang miskin
Dan mereka yang kurang dari padanya
Serta menolong dirinya
Hargai dan pergunakannlah sebaik-baiknya
Segala sesuatu yang kita terima dari Tuhan
Itulah kehendak ambalan kita

AMBALAN SANG HYANG KALANG DAN CITRA RESMI SIDHAYATRA

SANG HYANG KALANG
Cipt. Ade Ruswa

Sang Hyang Kalang ambalanku jayalah
Kita berjuang demi nusa bangsa
Kita berpadu tuk berpacu
Menuju arah cita Satu 
Dengan tekad yang senantiasa membara
Kita berbakti   ’tuk bunda pertiwi
Bekal hidup dihari nanti
Bersama ibunda tercinta

Reff.        Tetaplah engkau semarak….Bersama sinar baktimu
                Yang memancar bagai Sang Surya
                Serta geloramu penuh kharisma

                Jayalah Engkau, Jayalah Engkau
                Sang Hyang Kalang
Jayalah Engkau, Jayalah Engkau
                Sang Hyang Kalang

CITRA RESMI SIDHAYATRA
                                                                                                                                Cipt. Ade Ruswa
Bagai bunga mekar di persada
Harum mewangi dipertiwi
Putri harapan nan sejati
‘Tuk hidup sejahtera dihari nanti
                Engkaulah  Citra Resmi
                Dengan Sidhayatra mu yang murni
                Jayalah engkau dibuana
                Bahagia berbakti
Reff.                        Citraresmiku Sidhayatraku
                                Mekarlah untuk bangsamu
Indonesia tanah leluhurku
                                Marilah kita berpadu