SEJARAH AMBALAN SANG HYANG KALANG
Nama ambalan kita pada mulanya muncul pada tahun 1981, bukan nama yang seperti sekarang ini, tetapi akan mengambil nama daerah seperti Parigi, dengan syarat nama itu harus memiliki sejarah dan makna yang baik bagi kita serta ada data historis yang cukup valid (syah), namun setelah menunggu beberapa waktu setelah adanya pengumuman untuk mengadakan pengajuan nama untuk ambalan tersebut ternyata belum ada pengajuan. Itupun muncul beberapa usulan namun kurang mendapat dukungan dan argumentasi yang kuat, seperti nama Astamaya, sebuah nama daerah di sekitar SMPN 1 Parigi, karena SMA kita ada untuk pertama kali berada di lokasi itu. Ada nama lain seperti Karang Jaladri, sesuai dengan nama tempat pacuan kuda di daerah Bojong Salawe, namun tetap tidak mendapat respond dan argumnetasi yang kuat, sehingga kemudian diambil alternative nama dari daerah lain yang memiliki syarat yang dituliskan diatas.
Pada waktu itu semua anggota ambalan berfikir keras untuk menemukan nama yang pas dan pantas untuk ambalan kita, hingga pada suatu saat ada seorang dewan Ambalan yang melakukan wawancara dengan sesepuh tentang kejadian dan sejarah Cijulang. Dari sini muncul nama Jayengkara, dan Sembah Agung, yakni tokoh tokoh penyebar Islam di Cijulang tempo dulu, namun tetap nama-nama tersebut kurang mendapat respon dan katanya lebih bersifat kedaerahan.
Pada suatu saat ditemukanlah nama Sinjang Kalang, yang bermula dari Sang Hyang kalang, yakni sebuah nama binatang kuda sembrani yang memiliki kemisteriusan tersendiri di daerahnya, Batu karas. Dari nama itulah semua anggota ambalan sepakat dan tertarik untuk menelusurinya lebih dalam. Dan kemudian diadakan pengamatan kedaerah tersebut. Hasil pengamatan kemudian di diskusikan untuk diambil kesimpulan tentang cerita Sang Hyang Kalang ini. Setelah semalaman di diskusikan maka, diambil keputusan bahwa nama Sang Hyang Kalang dijadikan nama ambalan dan pada tanggal 24 Desember 1981 saat upacara bendera pukul 07.00, dibumi perkemahan Gunung Tumpeng Pradana Pertama Apip Winayadhi dan Pembina Gudep Ka Kaspian mensyahkan nama Sang Hyang Kalang sebagai nama ambalan.
SEJARAH AMBALAN
CITRA RESMI SIDHAYATRA
Pada tanggal 14 Bulan Paguna tahun 1272 atau tanggal 22 Februari 1350 M, Linggabuana di lantik menjadi Ratu Negeri Sunda ke 3 di Kawali, dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana. Beliau mempunyai prameswari bernama Rara Lingsing dan dari beliau mempunyai empat orang anak. Anak yang pertama bernama Citra Resmi (nama pemberian dari kakeknya) atau Dyah Pitaloka (nama pemberian ayahnya) yang lahir pada tahun 1339 M. dan anaknya yang ke dua dan ketiga pada usia satu tahun meninggal dunia. Dan anaknya yang ke empat bernama Niskala Wastu Kencana yang lahir pada tahun 1345 M.
Paada tahun 1386 M Negeri Sunda kedatangan utusan dari Kerajaan Majapahit dengan tujuan membuat lukisan atau gambar Putri Negeri Sunda, Citra Resmi, yang pada saat itu telah berusia 17 tahun. Maksud diambil lukisannya ini adalah untuk diikutsertakan dalam pemilihan prameswari Kerajaan Majapahit, karena pada saat itu Raja Hayam Wuruk belum mempunyai prameswari. Dari maksud itu maka disetujuilah oleh Raja Lingggabuana dan adiknya yakni Mangkubumi Bunisora Suradipati, dengan argumentasi bahwa jika kelak putrinya ini dapat terpilih, maka kebesaran Negeri Sunda akan lebih besar lagi di Nusantara, karena pada waktu itu Negeri Sunda tidak termasuk kedalam wilayah kekuasaan Majapahit.
Citra Resmi konon kabarnya adalah seorang gadis cantik, bagai bunga yang sedang mekar ditaman. Orang sunda mengatakan kecantikannya bakal deungdeuleueun atau membuat orang terpana. Bahkan katanya orang yang melukisnyapun sampai kebingungan untuk memilih warna yang cocok untuk jenis warna kulitnya yang merupakan perpaduan antara putih dan kuning.
Karena kecantikannya itulah, telah mejadikan Raja Hayam Wuruk untuk memutuskan memilih Citra Resmi sebagai prameswarinya, denganmengesampingkan para kandidat prameswari dari negeri lainnya.
Namun keputusan Raja Hayam Wuruk ini kurang mendapat dukungan dari Maha Patih Gajah Mada, hanya karena pada zaman itu sudah menjadi keharusan bahwa Sabda Prabu sama dengan keputusan kenegaraan, maka Gajah Mada hanya diam membisu tidak bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya Raja Hayam Wuruk mengirimkan utusannya ke Negeri Sunda untuk mengajukan lamaran dan menentukan hari pernikahahan kepada Prabu Linggabuana. Lamaran dari Raja Hayam Wuruk sudah tentu diterima oleh Raja Sunda, namun yang menjadi keanehan disini adalah bahwa utusan dari Majapahit meminta dari pihak perempuan untuk datang ke Majapahit pada saat pernikahannya nanti. Hal ini bagi masyarakat Sunda melanggar adat Kesundaan yang sudah lama mengakar dalam jiwa masyarakat Sunda.
Namun demi masa depan putri yang dicintainya maka berangkatlah rombongan dari negeri Sunda menuju Majapahit. Sebelum sampai di majapahit rombongan dari Negeri Sunda di tahan dulu untuk beristirahat disebuah lapangan, Bubat namanya. Dan kemudian utusan rombongan datang menghadap ke Raja Hayam Wuruk di Majapahit.
Sesampainya di Majapahit utusan dari negeri Sunda diterima oleh Patih gajah Mada, namun persepsi Patih Gajah Mada menilai kedatangan rombongan dari Sunda bukan untuk mengadakan acara pertikahahan antara dua Negara atau kerajaan yang sederajat, namun kedatangan rombongan dari Negeri Sunda dianggap sebagai penyerahan upeti dari Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Majapahit sebagai tanda takluknya Kerajaan Sunda atas Majapahit. Tatkala syarat-syarat dari Gajah Mada ini disampaikan di hadapan pimpinan rombongan Negeri Sunda yakni Ki Panghulu Sura dan Senapati Yuda Sutra Jali, wakil negeri Sunda itu merasa terhina dan marah besar karena merasa dikhianati. Senapati Sutra Jali langsung menghunus keris dan menantang gajah Mada untuk bertempur.
Mendengar kejadian ini Prabu Linggabuana langsung tersinggung dan menyatakan perang terhadap majapahit. Maka terjadinya peperangan antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan majapahit di lapangan Bubat ( sekarang terkenal dengan perang Bubat).
Karena kedatangan kerajaan Sunda ke Majapahit bukan untuk berperaang, namun untuk melangsungkan acara pertikahan tentu pasukan yang dibawanya itu sedikit dan peralatannya bukan untuk perang, melawan pasukan Majapahit yang memang sudah siap tempur, maka kalahlah Pasukan dari Kerajaan Sunda itu, sampai gugur pula Prabu Linggabuana beserta para pengikutnya. Sebelum berperang Patih Gajah Mada mengintruksikan agar jangan membunuh putri Citra Resmi, dan memang yang tersisa hanyalah putri Citra Resmi.
Mendengar ayah dan seluruh paasukan dari Kerajaan Sunda tewas maka Putri Citra resmi serta merta mengambil patrem rambut pemberian pamannya Patih Mangkubumi Bunisora Suradipati dan menghujamkannya tepat ke ulu hatinya. Citra resmi bunuh diri daripada harus menyerahkan kehormatan dirnya demi menjunjung tinggi martabat Kerajaan Sunda.
Melihat kenyataan itu Raja hayam Wuruk sangat sedih dan kecewa atas tindakan Patih Gajah Mada dan pengikutnya. Menurut Buku Kekawin Gajah Mada, setelah Perang Bubat raja Hayam Wuruk jatuh sakit, dan karena merasa bersalah Patih Gajah Mada menghilang entah kemana. Dari kejadian itu menyebabkan Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan keruntuhan, karena banyak pemberontakan dimana-mana untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Online Gambling 101 | How to bet on real money in casinos - Dr.
BalasHapusWhen you're in a casino, you're 아산 출장샵 betting 경상남도 출장안마 on 오산 출장안마 games, like blackjack, slots, roulette and more. There's no gambling game like blackjack 청주 출장안마 or 영천 출장마사지 any other